Generic selectors
Hanya temuan yang sesuai
Cari judul
Cari konten
Cari postingan
Cari halaman
Pilihan Kategori
Berita 2017
Berita 2018

Tilik Ndeso

Kampung Homestay Borobudur

“Kami berkembang bersama yang menginap. Kami mendengarkan saran dan kebutuhan mereka. Kami gak itung-itungan kalau buat tamu. Mereka kita anggap seperti keluarga jauh yang datang untuk menginap di rumah” ujar Pak Muslih, selaku Koordinator Kampung Homestay Borobudur.

Kampung Homestay Borobudur diinisiasi oleh masyarakat sekitar Borobudur untuk menyediakan tempat tinggal yang nyaman bagi tamu yang ingin bersinergi dengan suasana pedesaan yang masih asri, keramahan penduduk lokal, dan tradisi masyarakat dalam melakukan pekerjaan sehari-sehari.

Sejak adanya Borobudur Marathon 2017, jumlah homestay di Borobudur meningkat pesat. Pemilik homestay meningkatkan pelayanan dan bersiap menyambut runners Borobudur Marathon 2018.

Penginapan yang disediakan oleh Kampung Homestay Borobudur memiliki banyak pilihan dan menyesuaikan dengan kebutuhan tamu.

Info selengkapnya dapat dilihat di kampunghomestayborobudur.com

Desa Mendut

Desa Mendut adalah salah satu desa yang dilewati oleh rute Borobudur Marathon. Tim Tilik Ndeso menemukan beberapa wisata budaya dan kuliner yang bisa dikunjungi oleh runners!

1. Selain Candi Borobudur, ada Candi Mendut yang bisa dikunjungi runners saat Borobudur Marathon 2018. Menurut berbagai sumber, Candi Mendut berumur lebih tua daripada Candi Borobudur. Tidak hanya berlari dan berwisata, namun runners juga bisa belajar tentang sejarah.

2. Kalau biasanya makan sate dibakar, di desa Mendut kami menemukan sate yang di goreng! Sate goreng disajikan dengan kuah kecap dan sayuran seperti kol dan tomat. Enak dan segar!
Ada sate kambing dan ayam, juga tetap disediakan sate bakar. Sate Nak Djadi buka pukul 9 pagi sampai 8 malam.

3. Berawal dari pelatihan membatik oleh Batik Ghani, Ibu-Ibu PKK Desa Mendut terus tekun membatik dan kerap mengikuti pameran dan bazaar. Pada tahun 2014, batiknya dipesan oleh desainer untuk ikut dalam Jogja Fashion Week. Saat ini, mereka masih konsisten membatik dengan memberikan pelatihan kepada anak-anak SD Muhamadiyah Mendut.

Kerajinan Kulit

Kalau Anda sering melihat kerajinan kulit dalam bentuk sepatu, tas, selop dan sandal di area Candi Borobudur, Pak Fadlan adalah salah satu pemasok terbesar. Tak hanya di area Borobudur saja, kreasinya juga dikirim ke berbagai daerah di Indonesia.

Terletak di Desa Deyangan, Pak Fadlan sudah membuat kerajinan kulit sejak tahun 90-an. Bermula seorang diri, sekarang Pak Fadlan sudah mempekerjakan 20 pengrajin.

Dalam menjual barang kreasinya, Pak Fadlan menjual dengan harga yang cukup terjangkau. “Kalau ada yang beli dan dijual dengan harga yang lebih dari harga beli, ya tidak apa-apa. Sudah rejekinya. Saya sudah cukup” ujarnya.

Pasar Papringan

1 jam dari Magelang, Pasar Papringan di Temanggung diselenggarakan 2 kali dalam 1 bulan menurut penanggalan jawa. Setiap hari Minggu Wage dan Pon.

Pasar dibangun di lahan yang dulunya tempat pembuangan sampah. Bambu dianggap sebagai barang yang tidak berguna dan identik dengan jaman susah. Melalui Pasar Papringan, Pak Singgih ingin kembali membangun pengetahuan masyarakat bahwa apa yang ada di dalam desa itu baik, tidak usah melihat ke luar.

Pak Singgih yang juga pendiri Radio Magno dan Spedagi , Pasar Papringan dibangun untuk mengurangi kebosanan masyarakat desa akan kesederhanaan. “Pasar papringan dibuat sebagai endorsement bahwa produk yang dimiliki oleh orang desa itu bagus. Bahwa kesederhanaan menjadi luxury.” Di Pasar Papringan menggunakan bambu sebagai alat tukar. Pengunjung bisa menikmati berbagai masakan khas pedesaan, kerajinan bambu dan bernostalgia dengan mainan tempo dulu.

Bahan makan yang dijual berasal dari dalam desa, tidak mengandung MSG, dan tidak menggunakan kemasan plastik.

Rengginang, Jetkolet & Lukisan

Selain Desa Mendut, runners juga akan melewati Desa Tingal Wetan. Di desa ini, runners dan wisatawan dapat menikmati cemilan khas seperti rengginang dan jetkolet. Ada pula pelukis lokal yang hasil karyanya pernah dibeli oleh Ratu Denmark!

Sejak 1995, Bu Yatin sudah membuat rengginang. Produk buatannya ini sudah dikirim ke berbagai daerah di Indonesia. Diantaranya adalah Semarang, Surabaya, dan Lampung.

Jetkolet adalah keripik singkong khas Borobudur dan memiliki rasa yang gurih. Pak Pardi sudah memproduksi Jetkolet sejak 2014 dan sudah memasarkannya ke seluruh pulau Jawa.

15 tahun sudah sejak Mas Isting Medi mulai melukis. Saat ini, Mas Isting Medi sudah melukis lebih dari 200 lukisan. Salah satu lukisannya dibeli oleh Ratu Denmark saat berkunjung ke Borobudur Marathon di 2014.

Souvenir

Sejak 1997, Pak Ipung sudah membuat berbagai macam souvenir.

Pak Ipung menggunakan bahan limbah untuk dikreasikan menjadi barang yang menarik ,mempunyai nilai jual dan berkualitas.

Salah satu hasil kreasinya adalah souvenir “pensil gaul”. Dijual dengan harga Rp 2.000- Rp 100.000. Salah satunya, Pak Ipung sudah memasok souvenir untuk Amanjiwo.

Workshop Pak Ipung terletak di Desa Wanurejo.

Brambang Salam

Setelah berlari, biasanya rasa lapar melanda. 30 menit dari Candi Borobudur, terdapat kuliner Brambang Salam yang bisa menjadi pilihan menu makan siang.

Dengan menu khas Sop Iga Brambang Salam dan Ayam Goreng Rempah. Patut dicoba!

Posong Coffee

Selain Pasar Papringan, runners dapat mengunjungi Kopi Posong Temanggung yang terletak diantara Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, dan Gunung Prau.

Kami berkenalan dengan salah satu petani kopi yaitu Pak Tohang. Menurutnya, keunikan Kopi Posong adalah cita rasa yang khas tembakau. Karena di tanam di area yang dikelilingi oleh lahan tembakau.

Saat ini, daerah penanaman kopi posong sudah mendapat sertifikasi dari pemerintah. Hal ini sudah sangat jarang dan susah dalam mendapatkannya.